Judul                :

Iventaeisasi HHNK

 

 

Hari/tanggal     :

Senin,  Mei 2020

 

 

Pemateri           :

1. Maulida Sari Nasution

161201009

 

 

2. Buana Cipto Silalahi

161001048

 

 

3. Artika Wulan S. Maydi

161201066

 

 

4. Febrianty Natasya

161201081

 

 

5. Agnes Yolanda Tambunan

161201082

 

 

6. Nara Sisilia Br. Kaban

161201101

 

 

7. Riyan Hari Ashari

161201125

 

 

8. Saurma Romatua Sinaga

161201140

 

 

9. Yusni Sari Putri

171201006

 

 

10. Horeb Yoyada Marbun

171201008

 

 

11. Rizky Amalia Sipahutar

171201068

 

 

12. Firdaus Ramadhan Purba

171201070

 

 

13. Nailatul Amaliah

171201071

 

 

14. Sri Meliani

171201079

 

 

15. M. Khoiri Habibullah

171201080

 

 

16. Margaretha Tampubolon

171201154




 

 

Tujuan Praktikum :

1.  Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana menginventarisasi HHNK

2.  Mahasiswa dapat menduga potensi HHNK setiap kawasan

 

 

 

RESUME

 

 

         Keberadaan hutan yang sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup masyarakat sekitar hutan, dikarenakan hutan merupakan sumber pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dan sumber pendapatan keluarga. Sebagian besar masyarakat yang ada disekitar hutan bermata pencaharian dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di hutan baik berupa hasil hutan kayu dan bukan kayu. Pemanfaatan HHBK yang dipungut maupun dibudidayakan merupakan salah satu sumber mata pencaharian masyarakat sekitar hutan baik sebagai mata pencaharian utama maupun sampingan (Ikrima 2013).

Berdasarkan Peraturan Menteri No. P35/ Menhut-II/2007 HHBK adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu sebagai segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Departemen Kehutanan RI 2007). Peningkatan pemanfaatan HHBK oleh masyarakat sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini dikarenakan HHBK menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kabupaten Banjar merupakan salah satu Kabupaten di Kalimantan Selatan yang memiliki kawasan hutan dengan luas 231.984.249 ha. (BPKH Wilayah V Banjarbaru 2010) dimana banyak masyarakat sekitar hutannya memanfaatkan HHBK, salah satunya di Desa Paramasan Atas yang terletak di kecamatan Paramasan Kabupaten Banjar dengan luas wilayah 41,00 km dimana merupakan kawasan hutan yang masih alami dan masyarakat sekitar memanfaatkan HHBK sebagai mata pencaharian mereka (KPH Kayu Tangi 2017). Masyarakat Desa Paramasan  Atas memanfaatkan HHBK sebagai mata pencaharian, tetapi potensi HHBK di daerah tersebut belum diketahui oleh karena itu penulis menganggap perlu adanya penelitian tentang inventarisasi HHBK yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa

Paramasan Atas. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis HHBK yang dimanfaatkan oleh masyarakat beserta cara pemanfaatannya dan untuk menentukan HHBK unggulan di Desa Paramasan Atas.

        menggambarkan bahwa hasil hutan bukan kayu unggulan yang ada di Desa Paramasan Atas adalah Kemiri dengan jumlah responden yang memanfaatkan sebanyak 101 responden atau 94,39% dari jumlah responden keseluruhan sebanyak 107 orang. Berikut ini adalah jenis-jenis HHBK yang dimanfaatkan oleh masyarakat.

        Kemiri (Aleurites moluccanus) Responden yang memanfaatkan HHBK berupa kemiri sebanyak  94,39 % dari responden keseluruhan atau berjumlah 101 orang. Kemiri merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan hampir keseluruhan masyarakat yang menjadi responden karena banyaknya pohon Kemiri yang terdapat di hutan maupun kebun yang sengaja dibuat masyarakat di sekitar  hutan.

      Kayu Manis (Cinnamomum burmanni) Kayu manis merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Paramasan Atas. Responden yang memanfaatkan Kayu manis sebanyak 77 orang atau 71,96 % dari jumlah responden keseluruhan. Trubus (2012) menyatakan Kayu manis banyak memiliki berbagai khasiat diantaranya sebagai anti cacing, anti diare, mengobati demam, dan berperan sebagai antiseptik.

Karet (Hevea brasiliensis)

Karet atau getah dalam kegiatan pencariannya oleh masyarakat Desa Paramasan bukan merupakan pekerjaan pokok hal ini dapat terlihat dari jumlah responden yang memanfaatkan Karet sebanyak 46 orang atau 42,99% dari jumlah keselurahan responden yang diwawancarai. Menurut Eka, Aris dan Nadiah (2010) biji Karet memiliki kandungan gizi terutama protein yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pangan.

Jengkol (Archidendron pauciflorum)

          Jengkol atau yang dikenal masyarakat Paramasan Atas dengan nama “Jaring” merupakan hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari 107 responden, 29 responden atau 27,10% memanfaatkan Jengkol. Pohon Jengkol ini merupakan pohon yang banyak ditemui di lokasi penelitian. Di Desa Paramasan Atas Jengkol tidak ada yang ditanam oleh masyarakat, melainkan dapat tumbuh dengan sendirinya. Jengkol yang merupakan tanaman khas tropis ini memiliki buah yang sebenarnya adalah biji atau polong dari buah yang sebenarnya. Tiap polong terdapat kurang lebih 5-7 buah. Pohon Jengkol ini sendiri mampu tumbuh hingga mencapai 10-27 meter. Darwin (2010) menyatakan bahwa kulit Jengkol mengandung senyawa tannin yang berfungsi sebagai anti bakteri, antiseptik dan obat luka bakar yang dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan gel yang stabil.. Pada era modern ini  juga banyak bisnis yang memanfaatkan Jengkol sebagai bahan makanan seperti keripik dan kue.

           Pinang  (Areca catechu) Pinang yang merupakan tanaman famili Arecaceae yang dapat mencapai tinggi 1520 meter dengan batang tegak lurus. Masyarakat yang memanfaatkan Pinang dari keseluruhan responden yang diwawancarai berjumlah 35 orang atau 32,71%. Menurut Arisandi dan Andriani (2008) buah Pinang di Indonesia digunakan dalam dunia pengobatan sebagai obat cacingan, perut kembung, luka, batuk berdahak, diare, kudis, koreng, terlambat haid, keputihan, beri-beri, malaria, difteri, tidak nafsu makan, sembelit, sakit pinggang, gigi dan gusi.

           Rotan (Calamus rotang)

Rotan salah satu HHBK yang ada di Desa Paramasan Atas. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, responden yang memanfaatkan HHBKberupa rotan hanya 10 orang atau 9,34% dari jumlah keseluruhan responden. Rotan atau masyarakat Desa Paramasan Atas mengenalnya dengan nama daerah yang disebut “ Paikat” atau “Pang-ikat”. Rotan di desa Paramasan Atas ini  tumbuh di pinggiran sungai maupun di daerah berair.

Hal ini sependapat dengan apa yang dinyatakan (Sinambela 2011) bahwa tanaman Rotan ini tumbuh dan berkembang di daerah tanah berawa, tanah kering hingga tanah pegunungan. Hal ini sesuai dengan keadaan Desa Paramasan Atas yang merupakan daerah pegunungan.

      Cara pemanfaatan HHBK oleh Masyarakat Desa Paramasan Atas Berdasarkan hasil wawancara dengan responden selain didapatkan informasi tentang jenis-jenis hasil hutan bukan kayu juga didapatkan tentang cara-cara pemanfaatan hasil hutan bukan kayu  oleh masyarakat di Desa Paramasan Atas. Berdasarkan hasil jawaban responden HHBK yang dimanfaatkan oleh masyarkat Desa Paramasan Atas berupa Kemiri, Kayu manis, Pinang , Karet dan Jengkol yang dimanfaatkan untuk dikonsumsi sendiri atau dijual, walaupun sebenarnya banyak yang bias dimanfaatkan dari HHBK tersebut. Masyarakat biasanya menjual HHBK kepada pembeli perantara tidak langsung menjual sendiri kepada pengempul atau ke pasar. Masyarakat menjual HHBK kepada pembeli perantara yang datang ke rumah masyarakat yang memiliki persediaan HHBK yang akan dijual, kemudian pedagang perantara tersebut menjual kepada pengepul terdekat yang berada di Desa Paramasan Bawah.

       HHBK yang lainnya dari jenis buahbuahan seperti Mangga bacang atau Hambawang dan Jeruk limau hanya dimanfaatkan sendiri oleh masyarakat. Jahe dan bawang merah yang termasuk dari jenis Umbi-umbian juga tidak dapat mendatangkan penghasilan kepada masyarakat. Hal ini karena banyaknya ditemukan tanaman Jahe disekitar rumah penduduk sehingga jika masyarakat memerlukan Jahe  masyarakat lebih memilih mengambil langsung disekitar rumahnya daripada harus membeli. Selain memanfaatkan HHBK nabati masyarakat Desa Paramasan Atas juga memanfaatkan HHBK hewani. Masyarakat melakukan kegiatan berburu dalam memperoleh HHBK hewani tersebut. Menurut responden kegiatan berburu tidak lagi hanya sekedar mencari daging untuk dikonsumsi, tetapi sudah menjadi gaya hidup, hobi dan ikatan dengan lingkungan hutan yang sudah terjalin sejak remaja, tetapi semakin berjalannya waktu berburu tidaklah menghasilkan seperti beberapa puluh tahun

Kesimpulan 

 

Jenis-jenis HHBK di Desa Paramasan Atas Kecamatan Paramasan Kabupaten Banjar yang berupa HHBK nabati seperti Kemiri, Kayu manis, Karet, Jengkol, Pinang, Rotan, Mangga Bacang atau Hambawang, Jeruk limau, Bambu, Jahe dan HHBK hewani seperti Kancil, Rusa, Babi hutan dan Ayam hutan serta  ada hasil sampingan dari masyarakat berupa Bawang merah. Selain itu Pemanfaatan HHBK oleh masyarakat dengan cara dijual kepada pedagang perantara dan dimanfaatkan untuk keperluan sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

paper perdes tugas mata kuliah kebijakan dan perundang undangan kehutanan